Selasa, 01 Desember 2015

Angelita Tea Salon & Patisseries

Welcome December.. Waiting for Christmas…^^
Hello dessert lover, aku punya cerita buat kamu yang jatuh cinta berat dengan kudapan serba manis ini. Sebenarnya sudah pengen diceritakan dari Oktober lalu, karena kabut asap yang melanda kota kami membuat aktivitas pun serba terbatas. 

Perjalanan singkat aku, suami dan beberapa orang teman ke Pulau Bali pada Oktober lalu tidak membatasi kami untuk berkuliner di Bali. Salah satu destinasi yang dituju salah satunya Angelita Tea Salon & Patisseries. Sebelum berangkat ke Bali, tempat ini memang cukup membuat penasaran dengan cake-nya yang cukup fenomenal di media sosial. Cafe yang memiliki dekorasi cantik, chic, lucu dengan kursi ala-ala princess cocok banget nemenin afternoon tea kamu bersama sahabat. Buat kamu yang suka foto, setiap sudut di cafe ini bisa kamu jadiin spot foto. Sayangnya, kami datang 15 menit sebelum tutup jadi kesempatan untuk foto pun tak ada :(
Ternyata tidak hanya tempatnya yang indah, semua menu disini disajikan dengan begitu cute dan indah. Seperti cake yang satu ini, Mrs Piggy yang berwarna pink nan imut yang bakalan membuat kamu gak rela memakannya..hahaha Kombinasi rasa manis dan asam dari buah stroberi dan yogurt ini cocok buat kamu yang gak begitu suka dengan coklat. 


Dessert kedua, yaitu Mango Coconut. Suka dengan buah mangga? yumm.. dessert yang satu ini bisa jadi pilihan buat kamu.. dengan taburan kelapa parut diluar pas banget perpaduannya.


Dessert ketiga, yaitu Banana Nutella. Suka pisang apalagi Nutella? Ah, sekali cuil dijamin jatuh cinta dengan cake yang satu ini. Salah satu favorit pokoknya. Rasa pisangnya bener-bener berasa tapi dijamin ga bikin eneg.. Wajib masuk list yang harus dicoba buat para penggemar pisang.


Chocolatine, yap ini dessert keempat. Mungkin dari namanya udah bisa ketebak kalo komposisinya sudah pasti dominan coklat. Lumayan rasanya, tapi masih ada yang lebih enak daripada yang satu ini, terus scroll ke bawah yaa.. =p


Kalau yang satu ini pasti semua sudah familiar, Tiramisu. Uniknya tiramisu disini gak dibuat didalam jar atau berbentuk kotak seperti pada umumnya. Lebih spesial lagi karena ketika dibuka lelehan kopi akan mencari dari dalamnya, sayang gak kefoto ya.. Sebenernya aku bukan penggemar tiramisu, tapi Tiramisu disini boleh deh aku kasih jempol..hehe


Nah, ini dia dessert yang terakhir kami pesan yaitu Deadly Sin. Buat kamu chocolate lover, ini adalah menu yang aku rekomendasikan buat kamu. Surprise karena ketika memotong cake ini coklat cairnya pun keluar. Videonya boleh cek di Instagram yak.. Mirip dengan Choco Lava Cake yang sempat nge-hits beberapa tahun lalu, tapi dari soal rasa dan tekstur cukup beberda jauh. Walaupun komposisinya almost 99% coklat tapi gak ada yang namanya eneg buat cake yang satu ini. Mulai dari dalamnya berupa coklat cair, kemudian dilapis es krim coklat dan luarnya pun dibalut coklat, satu aja kurang (kalo aku sih gitu haha =D)

Overall, aku sangat puas dengan dessert yang ada disini.. Kalo mampir ke Bali pasti bakal kembali lagi kesini, asakan kualitas rasanya gak berubah. Harga dari cake disini rata-rata dibandrol Rp. 38.000 (excluded tax). Oh iya, selain menu dessert Angelita Tea Salon & Patisseries juga menyediakan menu appetizer dan main course juga. Lokasinya berada di Kerobokan, Kuta Utara, Bali. Kalau mampir disini jangan sampe kesorean ya, karena pukul 17.00 sudah tutup. Bisa dibayangkan kami sampai disini tepat pukul 16.45 dan dalam waktu 15 menit kami berempat menghabiskan cake-cake tersebut^^

Sabtu, 28 November 2015

Soto Ayayan


Soto? Siapa yang tidak kenal masakan yang satu ini. Hampir di setiap daerah di Indonesia punya menu soto. Di Kalimantan, Soto Banjar menjadi menu khas yang paling banyak di jumpai. Walaupun aslinya berasal dari daerah Banjarmasin, Kalimantan Selatan namun di Pangkalan Bun pun soto ini sangat tenar. Soto Banjar biasanya dihidangkan dengan lontong, bisa juga disantap dengan nasi namun sebutannya menjadi Nasi Sop. Dalam sepiring Soto Banjar ini berisikan bihun, wortel, kol, kentang rebus, suwiran daging ayam, telur rebus yang sudah dipotong serta taburan daun sop dan bawang goreng. Pada umumnya, Soto dengan kuah bening ini disajikan dengan suwiran ayam kampung, perkedel kentang dan telur bebek rebus sehingga rasanya jauh lebih maknyosss…  Apabila ingin ada sedikit rasa segar, kamu bisa memeras jeruk nipis yang sudah disediakan di atas meja. Selain itu juga tersedia sambal bagi kamu yang suka pedas.


Sebagai pelengkap kamu juga bisa memesan Sate. Daging ayam yang sudah dipotong kecil kemudian dibumbu dan ditusuk ini dibakar dengan saus kacang. Saus kacang pada Sate Banjar cenderung lebih halus dan tidak bertekstur seperti Sate yang banyak kita jumpai di Pulau Jawa. Rasa kecap manis pun cukup dominan pada saus kacangnya.Apabila berkunjung ke Pangkalan Bun, mungkin menu ini bisa masuk dalam list makan malam kamu. Salah satu tempat makan yang menyediakan Soto Banjar ini bisa kamu temukan di Jalan Iskandar. Sejak jam 5 sore tempat makan ini sudah ramai dipenuhi oleh pengunjung. Namun untuk menikmati menu yang satu ini mungkin kamu harus merogoh kocek kurang lebih Rp 40.000 untuk seporsi Soto Banjar + Sate + Minum.

Sabtu, 12 September 2015

Kuliner Pontianak : Day 2

Yawn.. Pangkalan Bun lagi darurat asap! Mau keluar rumah yang ada bikin penyakit, jadi mendingan weekend ini nyalain AC - tarik selimut - buka laptop - curcol di blog aja deh ya… Berhubung perjalanan ke Pontianak lalu masih menyimpan cerita jadi postingan kali ini masih seputar kuliner Pontianak!
Kita masih punya waktu sehari buat muterin kuliner di Pontianak. First stop pagi ini adalah rumah makan yang menyajikan Nasi Campur yang dapat dikatakan cukup populer di kalangan pecinta kuliner Pontianak. Yap! Nasi Campur Akwang yang sudah berdiri sejak tahun 1980-an ini sudah membuka beberapa cabang di Pontianak. Pagi itu kami mengunjungi salah satu kedainya yang berada di jalan Pahlawan. Tanpa berpikir panjang lagi seporsi Nasi Campur pun kami pesan untuk masing-masing.


Tak jauh berbeda dengan Nasi Campur pada umumnya, komponennya terdiri dari nasi putih dengan potongan daging babi panggang, sosis babi, babi merah, ayam panggang dan pindang telur. Tidak ketinggalan taburan bawang putih goreng dan kuah kental disiram diatasnya. Menurut aku, Nasi Campur Akwang ini boleh dikasih dua jempol. Kulit Babi Panggangnya paling favorit! masih kriuk kriuk pas dimakan.. Ahhh seporsi rasanya tak cukup, tapi sayang perut sudah kenyang dan perjalanan kuliner kami pun masih panjang. Seporsi Nasi Campur disini dibandrol Rp 35.000, porsinya tidak terlalu banyak tapi kalau untuk sarapan pagi yang kesiangan pas lah di perut.
Sore harinya, kebetulan persis di seberang Hotel Santika kita bisa menemukan penjual gorengan seafood mirip gorengan di batam yang pernah aku review sebelumnya. Soal rasa memang gak kalah enaknya..lebih dari 20 macam gorengan yang sudah ditusuk seperti sate disediakan. Kamu bisa memilih mau digoreng atau dibakar. Untuk pilihan sambalnya ada 3 macam, Saus Sambal Tomat, Saus Kacang dan Sambal Terasi. Soal harga mulai dari Rp 2000/tusuk.


Malam harinya kami mengitari sepanjang Jalan Gajah Mada yang memang merupakan surganya kuliner malam di Pontianak. Setelah berhari-hari makan daging terus-menerus kami memutuskan untuk mencari ikan atau seafood sebagai menu makan malam kami. Awalnya kami mau mampir ke Abang Kepiting yang memang cukup terkenal di kalangan pecinta seafood dan ikan segar, tapi sangat disayangkan masih tutup. Karena cukup bingung memilih tempat makan, akhirnya kami mampir di sebuah penjual Bubur Ikan.


Nama boleh bubur, tapi penampakannya bukan seperti bubur karena Bubur Ikan disini adalah nasi putih dengan kuah kaldu berisikan potongan daging ikan kakap dan sayur sawi. Untuk rasa boleh lah, cocok banget dimakan pada malam hari. Biasanya Bubur Ikan ini dilengkapi dengan telur yang diceplok langsung di atas buburnya. Jadi ketika disajian telurnya masih setengah matang. Berhubung aku ingin memesan menu lain untuk lauk tambahan, akhirnya aku memesan Bubur Ikan tanpa telur.


Nah, ini nih yang udah mulai gak bener lagi.. Niat awal gak pengen makan daging, ngintip warung sebelah jualan Sate Babi jadi pengen deh!HAhahaha.. Sate babi yang aku bayangkan adalah sate babi yang dagingnya besar-besar kemudian dibakar dengan bumbu dan kecap aja. Ternyata Sate Babi disini dipotong kecil seperti Sate Ayam kemudian disiram saus kacang. Yah, gak sesuai ekspektasi deh..rasanya pun biasa aja.. :(
Berhubung hari ini adalah hari terakhir di Pontianak, kami pun tak mau bergegas kembali ke hotel. Akhirnya kami mampir ke Crepes Signature untuk sekedar duduk-duduk santai. Mungkin tempat ini baru dibuka sehingga antriannya sangat lama sekali.


Akhirnya Nuttella Cheese Crepes pesananku pun selesai dibuat. Ukurannya cukup besar sampai-sampai wajah kita pun bisa ngumpet. Rasanya sih lumayan oke, sayangnya nuttellanya sangat tipis sekali.. Untuk pilihannya juga bisa ditambahkan es krim dan toping. Oh iya, sebelum mapir kesini kami juga sempat mampir ke salah satu toko oleh-oleh di Jalan Gajah Mada.


Salah satu oleh-oleh khas Pontianak favoritku adalah stik talas ini, pokoknya ga boleh ketinggalan deh dalam list keranjang oleh-oleh kamu! Tersedia rasa keju dan barbeque juga tapi menurutku yang enak adalah yang original, jadi rasa talasnya bener-bener berasa.
Oke, sekian dulu cerita dari Kota Pontianak. Pasti akan kembali lagi buat icip-icip kuliner yang belum sempat dikunjungi karena banyak yang tutup. Es Krim Angi, Siobi, Chai Kue Siam, Bubur Pedas, Mie Kepiting, Pisang Goreng Srikaya, Kopi Asiang I'll back for all of you~

Selasa, 01 September 2015

Kuliner Pontianak : Day 1


Welcome to Pontianak.. satu-satunya kota di Indonesia yang dilalui garis khatulistiwa. Perjalanan kali ini merupakan lanjutan dari jalan-jalan ke Kuching. Berhubung kedua kota ini saling bertetanggaan, sebaiknya kamu menyempatkan diri untuk sekedar mencicipi kuliner di Pontianak. 
Kurang lebih jam 3 sore, kami sudah sampai di Kota Pontianak. Sampai di hotel kami mandi dan beristirahat sejenak hingga akhirnya perut pun mulai lapar. Tujuan pertama yang ingin dikunjungi adalah kwetiaw/mietiaw yang cukup legendaris di Pontianak. Bertepat di jalan Patimura, persis setelah lampu merah kamu akan menemukan jejeran motor dan mobil yang sangat ramai parkir persis di depan warung yang bernama Apollo. Tak sabar untuk mencicipi akhirnya seporsi Mietiaw Goreng dan Mietiaw Siram pun kami pesan.


Kondisi malam itu sangat ramai, namun tanpa harus menunggu lama pesanan kami pun datang. Wow, porsinya cukup besar, tekstur dari mie yang berbentuk gepeng dan lebar ini cukup kenyal sehingga pas dilidah. Potongan daging sapi didalamnya pun tidak alot, berpadu dengan potongan sayur sawi dan toge. Namun sayang, menurut aku rasanya sedikit hambar, aku tidak mengerti apakah rasa Mietiaw Goreng ini memang hambar? sehingga untuk menikmatinya harus menambahkan kecap manis. Pesanan kedua Mietiaw Siram, ekspektasi aku adalah mietiaw yang digoreng kering mirip Mie Titi di Makassar kemudian disirami kuah kental berisi daging dan sayur. Ternyata Mietiaw Siram disini hampir sama dengan Mietiaw Goreng tadi, yang digoreng dengan sedikit minyak kemudian disiram dengan kuah kental yang berisikan sayur sawi, toge, daging dan jeroan sapi. Namun untuk rasa Mietiaw Siram ini menurutku lebih enak daripada Mietiaw Goreng.

Jalan-jalan ke Kota Pontianak sepertinya kurang afdol kalo tidak mampir ke kedai kopi. Di seputaran Jalan Gajah Mada kamu akan dengan mudah menemukan warung kopi, walaupun tempat terkenal seperti Kopi Asiang berada di dalam gang. Berdasarkan hasil stalking dan beberapa info dari temen di Pontianak,  Warung Kopi Asiang adalah tempat yang wajib dikunjungi. Sangat disayangkan ketika kami kesana tutup. Akhirnya kami menuju ke Warung Kopi Winny, setau aku di WK Winny juga menjual kopi yang bisa dikategorikan enak! Selain itu, disini cukup terkenal dengan Pisang Goreng Srikaya. Namun malang memang tak dapat dihindari karena kedatangan kami pada saat Lebaran, karyawannya pun mudik sehingga menu yang tersedia  hanya kopi saja.


Wah, ternyata kami tidak perlu berkecil hati karena kopi yang disajikan di WK Winny ini ternyata cukup enak! Masing-masing dari kami memesan segelas Es Kopi Susu, perpaduan antara kopi dan susunya sangat pas. Rasa susu tidak mendominasi sehingga nikmat dari kopi-nya pun terasa. Satu gelas saja sebenarnya tidak cukup untuk menemani obrolan malam kami di Kota Pontianak. Namun karena sudah mengantuk dan badan pun lelah akhirnya kami kembali ke hotel untuk beristirahat.

Jumat, 28 Agustus 2015

Escape to Kuching : Top Spot


Salah satu tempat yang cukup terkenal, dan gak boleh terlewatkan kalau kamu berkunjung ke Kuching adalah Top Spot. Food court dengan konsep roof top yang menjajakan berbagai macam seafood segar. Lokasinya persis berdekatan dengan Monumen Patung Kucing. Berhubung kita datangnya sudah malam, lift pun mati akhirnya cukup "ngos-ngosan" menaiki tangga sampai ke atas hahaha.. Uniknya pengunjung yang datang bukan hanya wisatawan saja, masyarakat setempat pun ikut memenuhi kursi-kursi disini untuk makan malam bersama keluarga. 
Setelah memutari dari ujung ke ujung akhirnya kami memutuskan untuk mampir ke salah satu gerai seafood segar, dimana kita dapat langsung memilih lauk yang diinginkan.


Pilihan pertama jatuh pada lobster besar yang digoreng kering dengan butter. Uummmm~ Ketika pesanan datang tercium aroma butter yang sangat menyengat.. Perut pun semakin bernyanyi kencang. "Kriuk kriuk" ternyata yang kami makan adalah kulitnya! hahaha.. saking crunchy-nya kulit pun termakan! Soal rasa boleh lah.. Daging lobster segar yang tebal terasa manis berpadu dengan butter yang gak cuma sekedar aroma, tapi meresap hingga ke daging.


Menu kedua yang dipesan adalah sotong yang dimasak dengan saus tiram namun berbeda dengan masakan saus tiram yang ada di Indonesia karena rasanya cenderung manis. Dagingnya kenyal dan empuk.. Kalau ditanya soal rasa? Hahaha.. maknyussss…^^


Berhubung cuaca dingin dan badan mulai meriang akhirnya kami memesan Tom Yam. Untuk pilihan isinya monggo pilih sendiri yaa.. Dari awal datang mata sudah megincar gerombolan kerang hijau yang tampak enak dinikmati dengan kuah Tom Yam yang rasanya asam segar. Walaupun bumbu Tom Yam disini gak sekuat masakan Thailand pada umumnya namun cukup untuk menghangatkan malam kami sambil menikmati udara malam di Kuching. Rasanya pun gak mengecewakan.. Menu terakhir yang gak sempat ter-capture adalah Sapo Tahu, saking lapar dan nikmatnya #maaphilaf. The most favorite-nya justru Sapo Tahu, pilihan isinya pun bisa dipilih sendiri.
Soal harga? dijamin bikin senyum sumringah.. dengan menu yang cukup banyak dengan nasi panas hanya menghabiskan sekitar RM 120. 

* Note : Datanglah sebelum jam 7 malam karena setelah itu antrian akan panjang